Persiapan Solo Travel ke Jepang selama 7 hari

Banyak yang bertanya-tanya, kamu cewek kok berani sekali sih traveling sendirian ke negri orang ? Hmmm… gimana ya jawabnya, sebenernya ini bukan masalah berani atau engga, tapi ‘mungkin’ atau tidak. Saya tipe orang yang menyimpan perasaan jauh-jauh dibelakang, logic comes first. Secara logika, seorang wanita itu ‘bisa’ dan mampu untuk jalan-jalan sendirian di Jepang. Disamping itu Jepang adalah negara yang cukup aman untuk pelajan solo, termasuk wanita seperti saya. Kita juga akan dimudahkan dengan moda transportasi dengan petunjuk arah yang ada dimana-mana dan informasi yang sangat lengkap ada di internet yang bisa dijadikan sumber referensi.

2
Shirakawago, January 2017

Berburu Tiket Pesawat – 100% Air Asia
Sejak memulai traveling overseas, saya sudah jatuh cinta dengan Air Asia yang super baik hati bikin para traveler makin semangat jalan-jalan karena promo nya. Tapi sayang, untuk traveling kali ini saya ga dapet promo, karena tujuan pertama ke Jepang adalah berburu salju. Air Asia memang selalu ngadain promo-promo miring, tapi sayangnya kali ini timingnya ga tepat, kebetulan Air Asia ngadain promo untuk keberangkatan dari awal April, jadi saya putuskan untuk beli tiket normal Air Asia untuk keberangkatan akhir January 2017 dengan harga 4.2juta PP Jakarta – Tokyo Haneda. Kalau dibandingkan dengan harga normal Garuda, Airasia ini tetap paling murah. Dengan Garuda, harganya bisa mencapai 7-8 juta PP loh. Sebenarnya, dengan keputusan membeli tiket PP Jakarta-Haneda adalah sebuah kesalahan. Awalnya saya berniat untuk jalan-jalan hemat saja di sekitaran Tokyo tanpa harus mengeluarkan banyak biaya untuk tranportasi ke luar Tokyo, tapi saya baru sadar bahwa dengan 7 hari itu saya dapat menjelajah ke beberapa kota, tidak hanya Tokyo saja. 7 hari waktu yang cukup minimal untuk mengexplore 2 kota antara Tokyo dan Osaka, barulah saya menyesal sudah membeli tiket PP Tokyo – Haneda, padahal saya harusnya membeli tiket Jakarta – Osaka dan pulangnya Tokyo – Jakarta. Tapi tak apalah.

Berburu Visa Jepang

FYI, sekarang ini pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan membebaskan visa bagi WNI pemegang e-paspor, tapi kalo paspor kalian masih paspor biasa, kalian harus apply visa seperti biasanya. Untuk informasi lebih lengkap bisa langsung aja masuk ke website kedubes jepang ya.Β http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html. Visa adalah syarat wajib untuk bisa traveling ke Jepang. Saya sebagai pemegang paspor biasa WNI dipusingkan dalam menentukan Visa mana yang akan saya ambil, apakah visa biasa dengan proses dan syarat yang lumayan rumit. Atau saya upgrade paspor ke elektronik lalu saya apply visa waiver yang tanpa syarat ? Dengan waktu 2 bulan, saya harus sungguh-sungguh mengurus visa ini, kalo salah langkah dan salah perhitungan jadwal bisa-bisa saya tidak dapat visa sampe hari keberangkatan.

Saya putuskan untuk upgrade paspor biasa saya ke paspor elektronik, dengan harapan jika paspor saya sudah elektronik saya akan dpt kemudahan dalam perjalanan-perjalanan selanjutnya #ngarepmodeon. Namun dengan modal paspor elektronikpun belum bisa langsung berangkat loh, tetap harus registrasi visa waiver ke kedutaan Jepang. Tapi sayangnya, untuk saat ini di kantor imigrasi Bandung belum bisa menerima pembuatan paspor elektronik, sehingga saya harus ke Jakarta. Akhirnya saya diantar suami tercinta pagi-pagi buta langsung menuju Jakarta Utara untuk melakukan upgrade paspor elektronik. Prosesnya sangat simple kalau kita datang dengan syarat-syarat yang lengkap. Klik ya untuk tata cara pembuatan e-paspor atau upgrade e-paspor.

1 Minggu kemudian, si hasben mengambil paspor elektronik saya dan yeayy akhirnya paspor saya ada chipnya. Setelah paspor elektornik ada di tangan, semingu kemudian saya langsung bergegas ke kedutaan jepang untuk melakukan pendaftaran bebas visa (visa waiver). Prosesnya sangat simple, kita hanya diharuskan mengisi form dan melampirkan paspor elektronik, sehari kemudian, paspor bisa diambil dan ada cap visa waivernya yang berlaku selama 3 tahun dengan durasi kunjungan selama 15 hari.

Penyusunan Itinerary
Setelah tiket pesawat dan visa waiver ada di tangan, langkah selanjutnya adalah penyusunan itinerary. Ini bagian yang paling menyita waktu dan pikiran. Gimana tidak, dengan waktu singkat 7 hari traveling itu saya ingin perjalanan kali ini berkesan dan tidak terlupakan, dan saya hanya punya waktu kurang lebih 2 bulan untuk mempersiapkan semuanya. Saya mulai mencari berbagai macam contoh itinerary di internet, menggabungkanya dan mengambil bagian mana saja yang harus saya comotin. Saat itu juga saya harus memutuskan untuk beli JR Pass atau tidak, naik bus atau naik shinkansen, mana yang lebih murah mana yang lebih nyaman. Doh! benar-benar melelahkan otak.

Pada saat penyusunan itinerary ini, kita harus rajin-rajin riset dan baca-baca blog atau website referensi. Dengan tiket pesawat PP Jakarta – Tokyo, saya harus muter otak, bagaimana caranya supaya saya bisa sekaligus mengexplore kota lain seperti Osaka atau Kyoto. Kepusingan pun bertambah ketika saya harus memutuskan, apakah saya harus beli JR Pass sehingga saya tinggal duduk manis naik Shinkansen untuk transportasi Pulang Pergi dari Tokyo – Osaka/Kyoto atau saya ikutin beberapa referensi blog yang menyarankan menggunakan Willer Bus, jadi naik bus semaleman sehingga saya bisa tidur di dalam bus selama perjalanan dan menghemat biaya akomodasi. Hmmm… bingungs ya? Lalu kemudian saya hitung-hitung lagi, dengan beberapa perbandingan pengeluaran jika saya pake Shinkansen yang hanya 3 jam perjalanan dari Tokyo – Osaka dan saya harus bayar lagi akomodasi full di kota tersebut, atau pakai bus malam dengan harga lebih murah hampir setengahnya, dan hemat biaya akomodasi karena saya bisa tidur di dalam bus. Setelah dihitung-hitung perbedaanya kurang lebih hanya 1 – 1.5juta. Memang lumayan, tapi saya juga mempertimbangkan kenyamanan, kalau saya harus tidur di dalam bus semalaman dikalikan 2 malam, yaitu pas pergi ke Osaka/Kyoto dan pas pulangnya ke Tokyo. Hmm akan sangat melelahkan bukan ? ditambah saya ini tipe orang yang ga bisa tidur di jalan.

Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan kereta Shinkansen dan membeli JR Pass sehingga jatohnya lebih hemat.

Tentang Japan Rail Pass
Bagi yang belum tahu, JR Pass adalah 1 tiket sakti yang bisa digunakan untuk bisa naik kereta sepuasnya di Jepang, termasuk kereta super cepat Shinkansen. JR Pass bisa jadi pilihan turis jika dalam satu itinerary banyak kota yang dikunjungi dan semuanya menggunakan kereta. Ada beberapa macam JR Pass dan klasifikasinya.

JR Pass 7 Days bisa digunakan selama 7 hari dengan harga Ordinary sekitar Rp. 3.400.000
JR Pass 14 Days bisa digunakan selama 14 hari dengan harga Ordinary sekitar Rp. 5.500.000
JR Pass 21 Days bisa digunakan selama 21 hari dengan harga Ordinary sekitar Rp. 7.000.000

Website-website berguna buat informasi tentang Japan Rail

Japan Guide JR Pass

Travel Agen HIS untuk pembelian JR Pass di Indonesia

JapanRailPass.net

Japan Rail Pass distributor

JREast

Hyperdia.com untuk cari tau rute, fare dan jadwal kereta.

Referensi tentang JR Pass dan Shinkansen dari JavaMilk.com

Jangan terburu-buru beli JR Pass

Ada juga pilihan untuk Green Car atau kelas executive nya semacam first class kalau di pesawat.
Namun dengan catatan, pemegang JR Pass tidak bisa menggunakan kereta Shinkansen Nozomi dan Mizohu. Kedua kereta ini adalah kereta executive non stop tokaido shinkansen dari Tokyo ke Osaka. Alternatifnya, kita bisa pake kereta Hikari namun dengan waktu tempuh yang lebih lama karena singgah dulu di beberap stasiun, tapi kalo dibandingkan dengan kereta di Indonesia sih tetap lebih juara, bagaimana tidak, dari Tokyo – Osaka dengan jarak sekitar 500 km, bisa ditempuh hanya dengan 3 jam saja. Kalo naik bus bisa semaleman loh tanpa macet.

Kenapa saya akhirnya beli JR Pass, karena dengan jadwal perjalanan yang mengharuskan saya pulang pergi dari Kyoto ke Tokyo saya bisa lebih hemat. Perhitunganya adalah begini :

* Harga JR Pass 7 days : 29.110 Yen
* Tiket Shinkansen PP Tokyo – Kyoto: kurleb 30.000 Yen

Jadi dengan pake JR Pass, kita sudah hemat sekali, ditambah lagi perjalanan saya ke kota-kota lainya bisa dihitung gratis.

Tapi bagi kalian yang tidak melakukan perjalanan PP Tokyo – Osaka, mungkin tidak perlu beli JR Pass.

Selain tiket PP Tokyo – Kyoto yang sudah di-cover JR Pass, saya juga tidak mau donk menyianyiakan JR Pass, akhirnya saya merubah total itinerary sehingga saya dapat memaksimalkan penggunakan JR Pass ( saking ngga mau rugi nya ). Akhirnya saya mengunjungi Shirakawago, Nara, Nikko dan Karuizawa. Dan setelah saya hitung total biaya transport untuk ke tempat-tempat tersebut bisa lebih dari 3 juta loh, jadi anggap saja saya hemat 3 juta karena pake JR Pass ini. Detailnya nanti saya buatin yah.

Sebenernya banyak tips yang menyarankan untuk tidak terburu-buru beli JR Pass, ya memang benar. Pastikan dulu itinerary, karena bisa jadi kalian hanya menghabiskan waktu di kota Tokyo saja, atau di Osaka saja atau mungkin datang dari Osaka dan hanya naik satu kali Shinkansen ke Tokyo karena pulang dari Tokyo, maka engga perlu lah beli JR Pass. JR Pass itu cocok dan keitung lebih hemat dengan minimal kalian pulang pergi Osaka- Tokyo. Pilihan lain bisa beli pass-pass yang lain di masing-masing daerah. Ada JR East Pass untuk wilayah Tohoku area, JR East Pass untuk wilayah Nagano, Niigata area, JR Tokyo Wide Pass untuk wilayah Tokyo dan sekitarnya, bisa juga sampe ke Gala Yuzawa dan NIkko pake JR Tokyo Wide Pass, ada JR East-South Hokkaido Rail pass untuk wilayah Sapporo, Otaru dan Muroran dan lain-lain. Pokoknya tipsnya sering-sering riset di internet, banyak banget informasinya loh tentang pas-pas ini.

Wifi Pocket ?
Sebagai manusia normal, apalagi wanita, saya juga ada rasa takut untuk nyasar loh. Jadi, traveling kali ini saya alokasikan dana untuk sewa router wifi atau wifi pocket, jadi selama traveling di Jepang saya ga perlu repot nyari-nyari koneksi internet. Banyak provider yang suka sewain wifi pocket, salah satunya pupuru.com dan saya rental disana. Caranya gampang dan simple banget, selama kamu punya kartu kredit, semua pembelian bisa secara online. Jadi minimal 3 hari sebelum keberangkatan kamu harus sudah order wifi pocket secara online, tergantung provider mana yang kamu ambil. Karena saya pake Pupuru, jadi kamu tinggal masuk aja ke websitenya pupuru http://www.pupuru.com/en/ lalu kamu ikutin deh langkah-langkah buat ordernya. Cuma isi form, tentukan waktu rental dari tanggal berapa sampai tanggal berapa, dan tentukan juga waktu dan tempat pengambilannya, lalu confirm pembayaran pake kartu kredit, done. Pupuru akan kirim email ke kamu buat bukti pembayaran. Waktu itu saya rental selama 6 hari, pengambilannya saya tentukan di Haneda Airport, tanggal 23 Januari 2017 jam 07:00 pagi, di website nya sudah lengkap kok tempat pengambilan bisa dimana aja, ada map nya juga sama jam bukanya, kebetulan kalo pengambilannya di Haneda Airport, tempatnya di JAL ABC Counter lantai 2f dekat dengan pintu kedatangan. Oiya, untuk pengembalianya juga simple banget loh, nanti wifi pocketnya dilengkapin dengan amplop yang sudah dikasih id customer dan alamat pengembalian, jadi kamu tinggal masukin aja ke semua kotak pos dimanapun kamu temui. Di Haneda Airport juga ada.

FYI, rata-rata harga perharinya itu sekitar Rp. 100ribu kalo dirupiahkan. Lumayan mahal kalo untuk backpacker solo kaya saya, tapi kalo pergi travelingnya rame-rame kan bisa dipake bareng-bareng juga dan bisa patungan wkwkwkwk.

Pemilihan Akomodasi
Pemilihan akomodasi dalam persiapan untuk traveling itu juga hostel juga lumayan menyita waktu. Banyak faktor yang harus dijadiin pertimbangan dalam pemilihan hostel ini. Pertama, letak geografisnya harus dekat dengan stasiun kereta, subway atau terminal, biar kita ga usah terlalu jalan kaki jauh untuk mencapai hostel/penginapan. Kedua, liat rating dan review para traveler sebelumnya, ini ngaruh banget loh untuk kenyamanan dan keamanan terutama traveler solo kaya saya. Lalu liat juga harga permalam nya, bandingkan dengan yang lain. Kalo masih masuk kantong sih oke oke saja, tapi kalo sudah terlalu mahal meskipun strategis tetep aja jadiin bahan pertimbangan.

Sebelum melakukan booking penginapan, sebaiknya itinerary sudah fix dan tidak diubah lagi. Karena penginapan ini memastikan berapa lama kita stay di kota tersebut.

Banyak pilihan website untuk booking penginapan, saya biasanya menggunakan situs hostelworld.com yang hanya diharuskan membayar uang muka saja, sisa nya on the spot, ada pilihan free cancelation ada juga yang kena charge kalo mau cancel. Kalo sudah fix bisa saja booking lewat agoda.com sehingga pas nyampe sana kita hanya tinggal ngasih bukti bookingnya aja. Pilihan website lain ada booking.com hostelbookers.com dll.

Setelah itinerary oke dan JR pass oke, saya akhirnya memutuskan untuk stay di Kyoto 3 hari pertama, karena jujur saya males pindah-pindah penginapan, apalagi ini judulnya jalan sendirian alias solo travel. Untuk 2 malam berikutnya saya putuskan untuk stay di Tokyo. Jadi sesampainya saya di Haneda Tokyo, saya langsung on the way to Kyoto dan checkin penginapan disana di hari pertama.

Di Kyoto saya memilih untuk stay di Kyoto Hana Hostel. Setelah dapat review bagus dari berbagai macam sumber, dan rating yang bagus pula, hanya 5 menit jalan kaki dari Kyoto Station, 2 menit jalan ke Lawson. Fasilitas yang lengkap dan nyaman, tempat tidur yang nyaman dan hangat di musim dingin, ditambah dengan keramahan para resepsionisnya. Saya dengan senang hati akan merekomendasikan hostel ini ke temen-temen kalo ada yang mau backpackeran ke Kyoto.

Di Tokyo saya memilih stay di Enaka Asakusa Central Hostel, daerah Asakusa karena dekat dengan tempat wisata semacam Sensoji Temple, Tokyo Sky Tree, Sumida Park dan dekat ke tempat beli oleh-oleh dan kuliner. Enaka Asakusa Hostel ini unik loh, konsep nya hotel kapsul gitu, bener-bener menomorsatukan privasi, serasa engga tidur di hostel, tapi di hotel sendiri. Ratingnya pun Superb sekali, fasilitasnya the best, bahkan saya kagum sekali dengan shower room dan toiletnya, ketika buka pintu, lampu nyala secara otomatis, kalo kalian penakut mungkin akan langsung kaget dan ketakutan hahaha. Permalamnya dapat rate sekitar Rp. 350.000 lebih mahal sedikit dibandingkan di Kyoto Hana Hostel.

Koper atau Backpack
Ini menarik sekali, karena beberapa tahun ini saya tidak pernah pakai koper atau suitcase, saya lebih nyaman pake Backpack. Emang dasar tukang naik gunung sih hehehe, tapi pas waktu traveling terakhir bareng nyokap ke Singapore saya pake Backpack kok rasanya pegel sekali, lebih dari 13 kg saya gendong tuh tas segede gaban, mulai kerasa sakit badan. Akhirnya untuk solo traveling ke Jepang kali ini saya coba untuk pindah haluan pake koper yang tetap bisa masuk kabin.

Setiap kali traveling saya selalu mengusahakan untuk tidak beli bagasi, alasan pertama karena harganya mahal, daripada beli bagasi mending buat makan enak. Kedua, saya agak waswas takut koper/tas saya dibobol oknum maskapai, atau salah alamat kan ribet nantinya. Lagian semua perlengkapan saya selalu muat masuk ke dalam ukuran kabin.

Perlengkapan yang saya bawa kali ini beda dengan traveling-traveling sebelumnya. Dulu saya bisa bawa baju 4-5 pcs, sekarang saya cukup bawa 2-3 pcs saja, tapi semacam sweater yang menghangatkan. Saya juga bawa longjon, kaos kaki, stoking, gloves, syall dan penutup kepala alias kupluk. Dan yang paling penting adalah down Jacket bulu angsa.

Sebenernya pengalaman ngerasain musim dingin dibawah 10C bukan hal yang aneh karena saya sering naik gunung dan disana kedinginan bisa mencapai -2 C. Jadi dengan pengalaman itulah saya benar-benar mempersiapkan perlengkapan musim dingin ini. Kalo kedinginan kan brabe, apalagi sampe ke hyportermia, jangan sampe dehh.

Ringkasan Itinerary 7 Hari di Jepang
Jadi akhirnya, setelah riset sana sini, beli tiket pesawat dan visa sudah ditangan, perlengkapan musim dingin pun udah kumplit, ini ringkasan jadwal perjalanan saya selama di Jepang. Untuk detail transport, ngapain aja, kemana aja dan ceritanya lengkapnya, akan saya tulis dipostingan yang berbeda ya, pokoknya stay tune! You guys should experience what I’ve done.

Day 1 – 22 Januari 2017 : On the way to Tokyo
Day 2 – 23 Januari 2017 : On the way to Kyoto, Explore Fushimi Inari Taisha
Day 3 – 24 Januari 2017 : Explore Shirakawago
Day 4 – 25 Januari 2017 : Explore Arashiyama, Explore Nara
Day 5 – 26 Januari 2017 : On the way to Tokyo, Explore Shibuya, Explore Asakusa
Day 6 – 27 Januari 2017 : Explore Nikko
Day 7 – 28 Januari 2017 : Explore Karuizawa, On the way back home

Ringkasan Budget Perjalanan
Pasti ini yang kalian tunggu-tunggu kan yaa ??
Kamu habis berapa sih waktu solo travel ke Jepang ?
Secara garis besar, budget yang dikeluarkan adalah sebagai berikut :
– Transportasi Bandung – Jakarta (Soetta Airport) Rp. 320.000
– Tiket Pesawat PP Jakarta – Tokyo Haneda Rp. 4.200.000 (tanpa bagasi, tanpa meal)
– JR Pass 7 Days Rp. 3.500.000
– Akomodasi / Penginapan selama 5 Malam Rp. 1.600.000
– Sewa Wifi Pocket selama 6 hari Rp. 750.000
– Reservasi Bus PP Shirakawago Rp. 400.000
– Makan, Minum dan Jajan selama 7 hari @ 150rb = Rp. 1.050.000
– Beli SUICA Card Rp. 500.000

Total Budget Rp. 12.320.000

Biaya diatas diluar oleh-oleh ya πŸ˜‰

Sebenernya bisa lebih murah lagi loh, tergantung tujuan wisatanya mau kemana, kalo hanya sekitaran Tokyo aja, atau Osaka aja. AirAsia itu promo PP ke Jepang bisa sampe 2.9 Juta, waktu itu pernah nemu harga segitu, tapi waktunya ga tepat. Terus kalo mau hemat juga jangan PP ke Tokyo, bisa diatur misalkan datang dari Osaka, pulangnya ke Tokyo jadi ga perlu nambah biaya transport untuk pulang pergi Osaka Tokyo, dan ga perlu beli JR Pass, cukup beli tiket biasa, atau pake bus malam lebih murah lagi.

To be Continued! Tunggu update-an selanjutnya ya tentang catatan perjalanan dari mulai hari pertama sampai hari terakhir solo backpacking ke Jepang ini. Stay Tuned! See you guys!

82 thoughts on “Persiapan Solo Travel ke Jepang selama 7 hari

  1. Mba.. kalau kita beli JR Pass.. apa di osaka, kyoto dan tokyo gak perlu beli tiket2 utk transportasi lagi ??

    1. Tergantung mba, selama transport nya itu dari JR Group maka semua tercover. Tapi jika mba menggunakan transport yang bukan JR Group seperti Subway atau Bus, maka harus bayar lagi mba. JR Pass hanya berlaku untuk transport yang dikeluarkan oleh JR Group saja mba.
      Untuk info lebih lengkapnya tentang JR Pass, mba bisa baca disini : http://www.japanrailpass.net/en/about_jrp.html

  2. Mba, kira-kira kalo buat anak kuliah cewek backpackeran ke jepang sendiri gimana ya? Mohon pencerahannya hehe

  3. wah lengkap sekali penjelasan apa aja dokumen yang mesti disiapin. Btw JR Pass nya mahal ya sampai 3.5 juta, kalau turis bisa ngga beli tiket regular gitu biar ngga kemahalan? Soalnya kalau ngga banyak bepergian pakai kereta asa mubazir aja gitu. hehe..

    1. Justru itu gunanya JRPass say, berguna kalo kita banyak pergi ke tempat2 yg jauh, jadi itungannya lebih murah.
      kalo ga terlalu jauh kan ada Pass2 yang lainnya, misalkan Tokyo Wide Pass, bisa digunakan diwilayah Tokyo aja, jadi ga perlu beli JRPAss.

  4. Kemarin sempat bingung juga beli JR pass atau nggak, soalnya 12 hari di Jepang. setelah mengatur itinerary, akhirnya cuma beli tokyo wide pass aja sih

    Naik willer bus juga lumayan enak kok buat tidur. 12 hari di jepang habis 13jt. hehe Itinerary bisa cek di blogku πŸ˜€

    Salam kenal

    1. Aku beli yang Air Asia, transit di KL say.
      Sekarang Air Asia udah ada yang direct dari Jakarta ke Jepang πŸ˜‰

  5. belum di update ya mbaa ??

    saya juga udah ada rencana ke japan tahun depan bulan maret dan sudah dapat tiket jakata-osaka.
    dan kita dapat tiket pas di garuda travel fair kita dapt harga lumayan murah 4.5. Sekedar info aja biasanya pameran travel gitu yang di jual bukan cuma tiket pesawat tapi JRPass dan Pocket Wifi juga promo. Pada saat Travel Fair tersebut

  6. Mbak, mau nanya, pas nginep di hostel di tokyo mbak naro kopernya dimana ya? Apa ada tempat khusus lagi buat naro koper kita gitu? Klo ada, makan biaya tambahan gk mbak? *maaf hari gini baru nanya,baru baca soalnya*

    1. Kalo di hostel yang saya tempatin sih ga ada loker khusus buat nyimpen koper, tapi kita dikasih loker kecil buat nyimpen barang2 penting aja.
      Saya waktu itu bawa kunci sepedah yg panjang itu loh, jadi pas pergi2 kopernya saya iket ngunci ke kasur hahahaa.

  7. mba.. klo ke shirakawa go nya naik apa? dari kyoto ya? need your advice.. renacananya mau so trip juga ke jepang.. makasih

    1. Suica itu semacam Emoney say, jadi bisa dipake buat transport dan belanja, bisa ditop-up juga sistemnya.

    1. Engga terlalu sih, tapi kalo ada conversation yg agak panjang mereka logat inggris nya memang susah2 dimengerti hihi, tapi pake bahasa tubuh juga udah faham kok maksudnya apa πŸ™‚

  8. Kak boleh minta itenary ny utk 7 hari ke jpang dgn fisit osaka,kyoto,tokyo… sy baru rencana berkunjung bersama keluarga kecil, mohon bantuannya terimakasih

    Bisa di kirim via email mandirikiprah@gmail.com sekalilagi terimakasih!

  9. Mba postingannya menarik sekali. Tujuan wisatanya kurang lebih sama mba. Kalau misal ke Jepang sekitar bulan Mei atau Juni 2018 apa cocok kita solo traveling ya mba? Terimakasih

    1. Mei kayanya udah mau masuk ke Summer mba, sakura juga udah hilang. Saya sih lebih prefer kalo ga winter ya pas Spring antara Maret – April.

  10. hallo kak mau tanya kalau passport kita yg biasa masih aktif sampai dengan 2020 , apakah kita bisa langsung upgrade ke epasport atau harus mnuggu sampai expired baru bisa di upgrade ?

    1. Bisa say, asal km bikin surat keterangan diatas materai mengenai alasan km kenapa mau ganti dari paspor biasa ke e-paspor. Aku juga dulu sama, paspor biasa malah baru bikin, 4 bulan kemudian ganti ke epaspor bisa kok.

  11. hallo kak salam kenal, aku tertarik sama itinerary yang kaka buat, btw aku menunggu cerita selanjutmu di jepang buat referensi ku ka πŸ™‚

  12. Aku pake Air Asia say, transit di KL. Yang direct memang mahal2, tapi kalo beli di travel fair biasanya banyak promo juga.

  13. Hallo kak, mau tanya, kalo suica sama passmo itu beda atau sama ya? terus pas keliling osaka dan tokyo pake pass apa saja?

    trims yaaa

    1. Suica & pasmo sama aja say, cuma beda perusahaan yg ngeluarinya, kaya kalo di kita itu semacam Emoney sama Flazz.
      Aku pas keliling Tokyo & Kyoto pake JRPass, kalo pas pake transport selain JR aku pake Suica, cuma pas di Nikko aja aku beli Pass khusus Nikko.

  14. wahh postingannya sangat informatif, makasih kak^^ saya masih sma kelas 2 tapi rencana pengen jalan sendiri ke jepang pas udh lulus, pengen ngerasain dulu jepang tuh kyk gimana sebelum saya pastiin lanjut kuliah di jepang hehe

    1. Hai Sofiee, makasih ya say udah mampir.
      Kalo syarat lengkap sih kayanya ga serumit itu, banyak kok yang apply visa biasa dan approved.
      Cuma sayangnya aku blm ada pengalaman urus visa jepang biasa jadi blm bisa share hehe.

  15. Hii…menarik bgt blognya. Sy dan suami berdua jg mo ke Jepang di Januari 2019, selama 7 hari jg. Sy boleh dong dikirim itinerarynya ke email patric_yuliria@yahoo.co.id
    Bedanya sy sampai di Osaka dan pulang dari Haneda, Tokyo.
    Kira2 sy ga pake JR Pass gmn ya ? Willer Bus sangat menghematkah buat kami berdua utk perjalanan malam dari Osaka menuju Tokyo ?
    Maaf yah banyak pertanyannya. Terimakasih sebelumnya…

    1. Hallo Patric, makasih udah mampir yaa..
      Kalo ga pake JRPass dan kalo hanya sejalan aja pake Willer Bus bisa hemat banget kok, karena perbandingan harganya jauh sekali. Kecuali kalo masnya mau PP antara Osaka – Tokyo, kayanya lebih baik pake JRPass. Tapi kalo PP nya pake bus juga, ya masih jauh lebih murah, tapi kebayang ga sih capenya πŸ™

  16. Kak… mana itten lengkapnya? Mau donkkk… soalnya Kewl banget infonya… sangat2 lengkap… ak sma temen2 mau kesana ney november ini… butuh bantuan suhu

  17. Sya rncana feb ato maret ke jepang.. cuman sndri tp msh bgung oleh krna blm prnh ksna n gk trlalu bs bhsa jepng. Ap susah buat org yg sprti sya dsna?mbak bs bhsa jepng?coz dsna logat jepngx beda2.. tkut sulit buat nanya2 arh? Ap swktu naik kereta gk kebinggungan buat naik n turn yg mna?

    1. Hallo Imus, makasih udah mampir.
      Kalo petugas-petugas gitu biasanya mereka bisa bahasa inggris kok, meskipun logatnya kadang susah dimengerti, tapi pasti ngerti kok. Kalo orang lokal mungkin agak susah diajak komunikasi, aku sih biasanya kalo mau nanya-nanya cari yang petugas berseragam gitu hehe.

      Flatform kereta di jepang keliatanya emang rumit, tapi kalo udah kesana gampang kok dibaca nya, gampang juga nyarinya jadi ga usah kwatir kesasar ya. πŸ˜€

  18. Mendingan Tokyo-Osaka PP atau kembali ke indonesia dr Osaka saja? Tadinya kepikiran mau Tokyo-Osaka PP tp mahal juga ya pake Shinkansen…. enaknya gimana? ada saran? Pengen mengunjungi 2 kota ini…

    1. Hallo Andi, makasih udah berkunjung…
      Kalo ngga pake Shinkansen bisa pake bus, banyak kok pilihannya salah satunya Willer bus, tapi aku belum ada pengalaman sih jadi ngga bisa ngasih tau detail hehee. Enaknya sih kalo mau irit dateng dari Tokyo, pulang dari Osaka atau sebaliknya.

  19. Super keren mbak, solo traveler sampai mana mana. Btw, kalau mau lihat wisata alam/pedesaan di Jepang sebaiknya ke kota apa aja ya? Terima kasih sebelumnya.

    1. Halllo Mahendra, makasih udah mampir hehee.
      Aku blom explore banyak di Jepang sih, tapi setauku kalo mau yang lebih ke alam-alam bisa ke area Gifu, kaya takayama, Shirakawa-go dll.

  20. Hallo mba, sangat membantu tulisan nya. mba saya mau tanya, kalau koper besar gitu bisa masuk kabin gak yah? terus kalau nambah bagasi, nah kalau kita transit di KL koper yang di bagasi itu kita ambil ikut transit apa gimana ya mba? atau udh di urus oleh AA nya? jd kita transit udh ga perlu mikirin koper lagi? mohon dijawab ya mba karena agustus saya mau summercamp disana

    1. Halo Indaah, makasih udah mampir ya.
      hanya koper ukuran kecil yang bisa masuk kabin. Kalo ukuran medium dan large harus masuk bagasi. Kalo pas transit, koper bagasi ga perlu diambil say, biasanya langsung keluar di tujuan terakhir, jadi ga perlu ribet ambil2 bagasi lagi.

  21. Hai kak, salam kenal aku nena,
    nyasar di blog ini karena lagi cari-cari info ke Jepang 7hari,
    Jika berkenan untuk list itinerary nya apakah boleh di share kak ?
    Buat jadi bahan acuan dan perbandingan aku pada saat disana..
    Ditunggu reviewnya sampe hari ke-7, hheehe can’t wait…

    Oia aku rencana ke Jepang di bulan Januari sekitaran tgl 20an gitu.
    Itu masih salju kan yah ? dan untuk orang yg pertama kali baru ngerasain salju kira-kira kuat gak yah ?
    Takutnya ga kuat gitu, keinginan terbesar orang tropis pengen rasain salju.. hehhehe

    Thank you kak

    1. Hi Nenaa, terimakasih sudah berkunjung….
      List Itinerary lengkapnya boleh aku kirim ke email km deh, oiya kalo mau fast response bisa DM aku lewat instagram ya.. disana aku selalu online hehe.

      Januari itu masih winter say, salju masih banyak tgl segitu. Pertama kali sebenernya pasti kuat2 aja sih, tapi mungkin mental yg harus di kuatin hahaha, karena aku juga agak parno sendiri, padahal kalo fisik sih kuat, selama kita bener2 persiapannya.

  22. Halo mbak, menarik sekali isi blognya. bisa jadi inspirasi atur ulang itin karena opening hour beberapa objek wisata yang mau saya kunjungi tutup di hari tertentu.

    Oiya, kalo ke Nikko sebaiknya beli Nikko pas atau ga usah?Saya cuma day trip dan utamanya pengin naik Akechidaira ropeway.
    Boleh minta itinnya juga ga, email saya: milana.fedelia@gmail.com
    Terima kasih.

    1. Makasih sayaang, aku waktu ke NIKKO beli Nikko Pas yang 2 days, meskipun dipakenya cuma sekali, karena waktu itu aku males ribet beli-beli tiket bus, yang harganya ga jauh beda kalo pake Pass. Nanti aku kirim itennya ya..

  23. Mbak aku mau first travel ke jepang ni, pas proses imigrasi ngapain aja, kayanta beda ya sama imigrasi masuk singapur ato malay? Ini yg agak buat nerpes πŸ˜€

    1. Aku pas proses imigrasi sempet kena random check πŸ™ tapi lancar kok, cuman ditanya2 singkat doank kek mau kemana aja, kenapa sendirian, trus diminta bukti booking penginapan, booking transport dll, Udah gitu aja langsung dibolehin masuk, santai aja kalo kita ga salah …

  24. Mbak thnx for info, tp aku pengen diceritain donx stepnya di imigrasi bandara ngapain aja, maklum aku dh nerpes duluan ni mau solo ke jepang

    1. Say aku udah upload catatan perjalanannya yg Day 1 dan day 2, nanti day 3 dan seterusnya nyusul, disitu aku tulis lengkap deh heheheee

  25. Hi mbak. Ku rencananya mau solo trip ke jepang juga. Baca blognya jadi berani buat kesana sendirian, secara selama ini gak pernah traveling sendirian.
    Oiya mbak, untuk pengurusan e passpor dan visa waiver gak perlu fotokopi rekening koran lan ya? Maklum, tabungan gak sampe berpuluh puluh juta.
    Trus mbaknya ada line gak ya? Mau tanya tanya banyak ini hehehhe

    1. Hayooo semangaaaat. I can do it, you can do it!
      Untuk waiver ga perlu ada syarat apa-apa kok, cuma isi form aja. Aku aja waktu itu tabungan dibawah 10 juta-an, dan sejauh ini ga pernah ditanyain tabungan kalo pake Waiver.
      Aku ga punya LIne say, tapi aku online di DM IG kok, pasti aku respon cepet hehe.

  26. Kak, tanya dong kalo lagi jalan sendiri pas malem gitu gimana? Soalnya kan ada juga tempat yang bagusnya dikunjungi waktu malam krn pemandangan malamnya, misal dotonbori atau odaiba kalau mau lihat rainbow bridge. Tetep aman aja?

    1. Amaaan sepertinya, meskipun aku blm ngalamin jalan malem, karena pasti udah sore aja udah lelah. Tapi setau aku Japan negara paling aman terutama buat perempuan juga. Jadi dont worry ! πŸ˜€

  27. Mba berarti aman yah jepang untuk travelling sendirian… saya sebenarnya masih bingung dengan subway system.. apakah officer disana mau membantu bila saya kebingungan?

    1. Aman bangeeet sayaang, malah menurutku Jepang ini adalah negara paling aman untuk solotravel perempuan kek kita. Aku jg pernah kebingungan nyari flatform di Shinagawa Station, belum juga nanya ke orang, udah ada yg bantuin, mereka inisiatif sendiri langsung bantu klo liat orang kebingungan cckckckck.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*