Catatan Perjalanan Bali – Part 2

Selamat hari Senin…… di hari ke 2 ini, kami rencananya mau ke Pantai Pandawa, setelah beres mandi dan sarapan pagi dengan makanan dan cemilan yang kami beli kemarin, kami janjian sama Ketut di Pantai Kuta, untuk jalannya sendiri sih kita serahin ke Ketut, dia bawa motor sendiri, sementara saya sama temen saya sewa motor yang disediain sama hotel. Harga sewa motor per-harinya 30ribu. Murah meriah.
Sambil nunggu guide dadakan kami, Ketut, kami berdua jalan-jalan di pantai kuta. Bagi saya, pantai kuta ga terlalu menarik, kurang alami karena terlalu banyak yang jualan, terlalu banyak sampah pula.
Ga lama kemudian, setelah kami jalan-jalan di pantai kuta, Ketut pun sampe juga, kami bertiga langsung berangkat menuju pantai pandawa dengan dua motor, Ketut sebagai penunjuk jalan :D. Lama perjalanan dari pantai kuta menuju pantai pandawa menggunakan sepedah motor sekitar setengah jam, ditengah jalan kami ga lupa membeli bensin full tank sebesar 20ribu.
Satu hal yang saya takjub dari pulau Bali ini adalah, disini ada jalan tol diatas laut, dan kerennya ada jalur motornya juga loh, jadi perjalanan bisa lebih cepat dan pemandanganpun amat sangat luar biasa, ditambah dengan kencangnya angin yang gugulubugan, jangan lupa bawa tolak angin ya kalo mau naik motor lewat jalan tol ini haha.
Sebelum masuk pantai pandawa, kami disuguhkan dengan pemandangan tebing-tebing yang tinggi dan beberapa patung mahabrata seperti pandawa, yudistira, arjuna, nakula, sadewa dsb. keren banget, tak lupa kami juga popotoan dulu disana. Disamping sebagai penunjuk jalan, Ketut juga berperan sebagai fotografer kami, duh senengnyaaa… memang sih orang Bali itu ramah dan pada baik hati.
Di pantai pandawa, sebenernya kami bisa main kayaking tandem 2 orang, atau surfing atau sekedar jemuran, tapi karena kami ga berniat main air dari awal, jadi kami ga bawa baju ganti deuh… padahal air laut di pantai pandawa ini menggoda banget loh, selain permainan air, ada juga yang main parasailing, pengeeen tapi sepertinya out of budget, cuman bisa jadi penonton aja. Tak Apalaaah…..
Setelah puas menjelajah pantai pandawa dan setelah puas poto-poto disini, kami bertiga langsung move ke GWK. Tapi sebelum masuk, perut kami keroncongan, sepertinya diisi dulu lebih baik. Sebelum masuk ke GWK, ada tempat makan seafood yang sudah ready, menu nya pun banyak banget, dan harganya murah, semua harga dibawah 30 ribu untuk ukuran seafood, saya pikir mungkin rasanya gakan terlalu enak atau porsi yang disajikan sedikit, tapi ternyata jengjreeeeeeng… porsinya banyaak banget, dan rasanya juga enak. Rekomendid banget nih restoran seafood nya. Saya lupa lagi nama tempat makannya, tapi yang jelas ada di Jl. Uluwatu depan pintu masuk GWK.
Setelah perut kenyang akan seafood ini, kami langsung masuk menuju GWK, sebelumnya tak lupa popotoan dulu di pintu masuk GWK.
Untuk masuk ke GWK, kita dikenakan tiket sebesar Rp. 50.000 untuk dewasa domestic, kalo untuk wisatawan asing sih kurang tau ya hihi. di GWK, kami sempat nonton pertunjukan Bali Dance.
Setalah nonton tari bali, kita langsung menuju ke patung garuda wisnu kencana. FYI, patung ini belum jadi loh, masih potongan-potongan kecil yang nantinya akan disambungkan, konon katanya kalau sudah jadi, patung garuda wisnu kencana ini akan jadi patung terbesar di dunia. Emang luar biasa banget sih, ga kebayang ini nanti nyambunginnya gimana, kepalanya aja udah segede gaban begitu, gimana kalo nanti ya.
Saya ga sabar nunggu patung ini jadi, baru sebagian nya saja sudah besar dan tinggi sekalee. Kalau sudah kaya gini, bangga banget dah jadi warga negara Indonesia.
Setelah puas menjelajah GWK, sudah saatnya kita menuju Pura Uluwatu untuk menyaksikan Tari Kecak. Katanya, di Pura Uluwatu ini adalah pertunjukan tari kecak terbaik di Bali, karena lokasinya berada diatas tebing dan dipinggir pantai dengan jadwal pertunjukan sore menuju malam, jadi kita akan menyaksikan sunset di Pura Uluwatu sambil nonton Kecak.
Perjalanan dari GWK ke Pura Uluwatu tidak lama, kurang lebih 20 menitan menggunakan sepedah motor. Setelah sampai di Pura Uluwatu, kita harus bayar tiket masuk Pura sebesar 15ribu, dan diharuskan menggunakan pakaian yang sopan. Bagi para bule yang menggunakan baju seksi, mereka menyediakan kain untuk menutupinya… mengingatkan saya sama Grand Palace, Bangkok.
Untuk masuk ke Pura Luhur Uluwatu ini, kami tidak disarankan menggunakan kacamata atau membawa makanan, soalnya banyak monyet bro, dan mereka nakal-nakal suka nyuri barang-barang kita. Pertunjukan Tari Kecak dimulai jam 6 sore loh, jadi sambil nunggu jam 6, kami puas-puasin untuk foto-foto.
Harga tiket untuk menyaksikan Tari Kecak Uluwatu ini cukup mahal loh, 100ribu per-orang. Tapi karena banyak review yang bilang ini worthed ya sudah lah, kapan lagi ya ga ? Untuk mendapatkan tiketnya pun ga gampang, ga ada loket khusus, ga ada tempat antri, para panitia langsung diam ditengah untuk melayani pembelian tiket, jadi kita nyusup-nyusup deh biar dapat tiket dan biar langsung cari tempat duduk yang spot nya enak.
Untuk mendapatkan tiket, kita tinggal menyediakan uang 100ribu dan menyebutkan negara asal, karena kita akan dikasih lembaran cerita dengan masing-masing bahasa. Karena tari Kecak itu semacam tari yang menceritakan sesuatu gitu deh.
Kami bertiga memilih tempat duduk di tengah dan tidak terlalu depan agar kami bisa memotret penontonnya juga. Semakin sore matahari semakin akan tenggelan dan semakin menanti sunset dan menanti tari kecak dimulai. Moment ini bener-bener engga akan pernah saya lupakan. Religinya terasa kental banget, dan tari kecak ini bener-bener bikin merinding, karena tari kecak tidak diiringi alat musik apapun, hanya dari suara para penari saja.
Pertunjukan Tari Kecak ini berlangsung sekitar 45 menit sampai 1 jam. Tapi selama itu kita ga boreng, malah takjub banget, selama ini nonton tari kecak cuman di tv aja, ternyata nonton langsung auranya beda banget. Perasaan campur aduk karena saking kerennya dan bikin bulu kuduk merinding. Apalagi ditambah pada saat sesi akhir, ada Fire Dance, meskipun saya sendiri engga terlalu ngerti sih tentang ceritanya. Hahaha.
Pertunjukan ini, unforgettable moment, suatu saat saya bakalan kesini lagi tentunya sama future husban ya hihihi….
Setelah semua bubar, kami bertiga langsung tancap gas menuju hotel, karena badan sudah remuk dan leuleus, sudah malam pula, rada sedikit takut juga pake motor malam-malam di Bali, ditambah akses menuju Pura Uluwatu ini cukup jauh dan tidak begitu ramai. Tapi setelah sampe kota, rasa takut hilang juga. Sesampainya di hotel kita mandi, makan, istirahat dan tidur. Siap-siapin tenaga buat perjalanan besok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*